ANTARA ELIT DAN ALIT

ELIT dan alit adalah saudara, lahir dari rahim yang sama. Kaum ’elit’ adalah anak istimewa, khusus bil khusus, khawwas al khawwas, VVIP, eksklusif, bukan ‘kaum’ sembarangan. Sedang ‘ alit’ adalah anak kebanyakan, umum, kelas ekonomi, rakyat kecil, ‘budak leutik’, ‘wong cilik’, kelas rendahan, orang pinggiran, komunitas marjinal, kaum sembarangan yang terbuang dan terabaikan dari kancah kehidupan.

ELIT dan alit adalah saudara, tapi perbedaan nasib membuat keduanya terpisah saling berjauhan, tak lagi serumah, tak lagi saling berkunjung, tak lagi saling mengenal, bahkan tak jarang saling bermusuhan. Padahal SANG IBU yang melahirkan sudah jauh-jauh hari berpesan agar keduanya tetap bersatu sebagai keluarga. Sejauh apapun jarak memisahkan, tapi tali persaudaraan jangan sampai terputuskan.

SILATURAHIM, tali kasih sayang, tali pusar dari rahim SANG IBU, berapapun tali yang tumbuh dari asal yang satu tetaplah satu, tak boleh terputus oleh ruang dan waktu. Tak boleh termakan oleh zaman. Tak boleh rusak oleh perbedaan.

Tapi kenyataan berkata lain. ELIT dan alit tak lagi bersaudara. Status, kasta dan strata menjadi sumber pelanggaran petuah SANG IBU. ELIT merasa malu bertemu dengan alit, bahkan lupa diri, pesona materi dan kemilau duniawi mengubah wajah dan perilaku. ELIT kehilangan spirit ‘rahim’ ibu.

Tingkah polah ELIT makin genit, ucapannya ‘nyelekit’, bikin panas kuping anak- anak alit. Alit makin pailit, perut lapar melilit, biaya hidup melangit, aneka problem membelit dan menggigit. Kepada siapa lagi minta pertolongan kalau bukan kepada saudara se’rahim’, ELIT ?

Tapi ELIT juga tengah terjangkit ‘penyakit krodit’, lihat saja sinyalnya sudah ‘tulalit’, bukan mengulurkan tangan, malah membawa hujan orasi dan retorika, diplomasi berbelit- belit, guyuran janji yang tidak kongkrit, segudang alibi dan argumentasi, lalu pura- pura buta dan pura- pura tuli, menghindari kerumunan alit, lari menjauh terbirit.

Malangnya nasib alit, orang kecil . Tak bisa berlepas diri dari hidup yang sulit, semua serba rumit, ruang gerak makin sempit. Sebab diam- diam di belakang sekelompok ELIT ‘saling berbisik’, berselingkuh untuk memperalat nasib alit, ternyata memang ELIT-lah dalang kesulitan hidup alit, mendulang kenyang di atas derita, seperti lalat-lalat jahat menari gembira di atas luka.

Dengan cerdik ELIT menjala sekarung ikan di rumah alit di tengah malam, lalu menyedekahkan sepiring kecil rendang ikan matang esok harinya kepada alit, dengan senyum palsu dan keikhlasan semu. Menutupi jejak kecurangan permainan, bertingkah bak pahlawan penyelamat, curian berkedok subsidi, membangun ‘citra’ menebar pesona. Dengan polos alit bersuka cita atas ‘kemurahan hati’ ELIT, saudara lama. Sudah nasib orang bodoh menjadi korban orang pintar, dan memang pintar perancang skenario makar.

Alit, kecil, lemah, rendah, tetap tak berdaya terjebak dalam intrik keluarga, kemelut yang direkayasa elit. ELIT kian lupa dan ‘sakit’, SANG IBU akhirnya benar- benar sakit, tersiksa oleh kegagalan mengasuh dan meng’harmonis’kan hubungan anak- anak dalam rumah tangga. SANG IBU hanya bisa berkata lirih,” Anak- anakku, sudahilah derita ibu, kembalilah menyatu dalam rahim tempat kalian semua terlahir dahulu…

“ASAH-ASIH-ASUH” DAN “RESAH-RISIH-RUSUH”

Saling asah adalah kesadaran saling menempa pribadi, melatih ketajaman budi, menjaga pekerti dari ‘karat-karat’ kotoran jiwa dan kemanusiaan. Saling asih adalah kesadaran bersama untuk saling memberi, mengulurkan tangan, kedermawanan, wujud kesalehan sosial yang muncul dari ketulusan cinta-kasih-sayang, bukti nyata terikatnya tali persaudaraan, kebersamaan dan kekeluargaan. Sedang saling asuh adalah kesadaran memelihara, menjaga, ‘ngemong’-mengasuh, yang tua membimbing yang muda, yang kuat menopang yang lemah, yang berkuasa membopong yang tak berdaya.

Dalam sebuah keluarga, ketika falsafah “saling asah-saling asih-saling asuh” menghilang, maka saling asah berubah menjadi ‘saling gesek-gosok-gasak’. Penempaan dan penajaman pribadi akan berubah menjadi singgungan, gesekan dan benturan yang hanya akan membawa derita dan luka-luka bersama. Pribadi-pribadi tak lagi bisa membedakan antara pelatihan dengan pertarungan, saling asah seharusnya membangun kekuatan dan ketangguhan tapi ‘saling gesek’ membawa kerusakan dan kehancuran.

Embrio pola hidup materialistis-kebendaan-duniawi melahirkan bocah sikap egoisme, individualisme, hedonisme, dan tumbuh dewasa menjadi ‘raksasa-buta’ keserakahan, penonjolan kepentingan pribadi, keluarga, kelompok atau golongan semata. Dehumanisasi, hilanglah nilai-nilai kemanusiaan, lunturnya kepedulian dan kepekaan sosial, pudarnya ‘tepo seliro’, tenggang rasa sesama. Maka jangankan untuk saling asih memberi, yang mentradisi justru saling sikat dan saling sikut, saling rebut dan saling ribut, pencurian, perampasan, pelanggaran hak-hak dan keadilan, pengambilan secara paksa harkat dan martabat manusia.

Saling asuh menghilang, tak ada lagi ‘ruh’ cinta-kasih-sayang pada sesama dan alam semesta, ‘jasad’ manusia perlahan berubah rupa, muncullah musang berbulu ayam, serigala berbulu domba, kejahatan yang terbungkus dengan kostum kebaikan. Bahkan ketika syahwat melata sudah tak terbendung, kejahatan tak lagi malu-malu dinampakkan terang-terangan, ‘homo homini lupus’, serigala saling memangsa serigala, hukum rimba dipelataran rumah tangga keluarga manusia. Tak ada lagi ‘pamong-pamong’ dayang-inang-biyung pengasuh dengan sentuhan kelembutan cinta. Yang kuat menindas yang lemah, pembodohan, pemiskinan dan pemasungan. Aura cinta pergi entah ke mana.

Ketika ‘saling asah-saling asih-saling asuh’ menghilang, maka “saling resah-saling risih-saling rusuh” akan segera datang. Jiwa-jiwa resah gelisah, pudarnya ketenangan dan ketenteraman, hilangnya rasa saling percaya, munculnya rasa saling curiga, saling mengintai, menguping pembicaraan rahasia, saling menyebar mata-mata, ‘privacy’ semakin dikebiri. Resah tentang masa depan, resah tentang ketidakadilan, resah tentang ketidakamanan, resah tentang ketidakpastian hukum, berjuta keresahan dalam berjuta kemungkinan dan berjuta ketidakjelasan.

Keresahan berkepanjangan lalu menghadirkan rasa “saling risih”, ketidaknyamanan dalam berbagai hubungan-interaksi sosial. Hilangnya komunikasi antar sesama. Kesalahpahaman. Semua jadi serba salah, kebingungan melanda, carut marut problema tak ada habisnya, seakan tak ada jalan keluar, sebab perikehidupan telah salah kaprah, yang benar jadi tidak lumrah. Risih, ‘pekewuh’, tidak enak, mau menegur salah, tidak menegur juga salah. Mau ikut-ikutan ‘ngedan’ salah, tidak ikut ‘ngedan’ akan kalah. Mau maksiat salah, tidak maksiat kawatir bernasib payah.

Resah membawa risih, keresahan dan kerisihan adalah ‘bom waktu’, api dalam sekam, bahaya laten yang pada ambang batasnya akan meledak, membakar dan tumpah keluar seperti air bendungan kelebihan muatan. Terminal akhirnya adalah turunnya ‘dajjal-setan-sang kala’ yang menyulut api “rusuh”. Kerusuhan itulah ‘buah khuldi’ keabadian dari ‘pohon syajarah’ akibat naluri syahwat ‘syaithaniah-penyimpangan’ fitrah peradaban dan kebudayaan manusia. Rusuh, kisruh, ricuh, adalah simbol azab neraka, hukuman atas pelanggaran yang dipersaksikan dan disegerakan di dunia nyata, sebagai peringatan bagi manusia yang berakal dan berkeyakinan akan neraka yang ‘real’ di alam selanjutnya, akhirat.

Rusuh dan kerusuhan adalah ‘kiamat sughra’, kiamat percontohan agar manusia mengambil pelajaran sebelum tiba ‘kiamat kubra’, kehancuran dan kemusnahan alam semesta dan seisinya. Manusia yang berakal, akal sehat penalaran maupun akal budi pekerti hati nurani, sudah semestinya secara cerdas, arif dan bijak menangkap tanda-tanda zaman yang telah Dia kirimkan dalam rangkaian peristiwa dan kejadian berulang-ulang sepanjang zaman.

Rusuh dan kerusuhan, kehancuran dan penderitaan, terbakar dari api amarah yang menghanguskan akal dan nurani, kuburan massal bagi martabat kemanusiaan, peradaban dan kebudayaan. Hanya dengan penyadaran dan kesadaran serta penyabaran dan kesabaran untuk teguh menjaga ‘ruh’ sikap “saling asah-saling asih-saling asuh” akan tercegah berkobarnya api “saling resah-saling risih-saling rusuh” sehingga selamatlah suatu bangsa dari ‘kiamat nasional’ kehancuran kebudayaan dan peradaban.

El Jeffry

KETIKA MATA BERKHIANAT

Ketika mata berkhianat, pintu pertahanan jiwa mulai terbuka. Syahwat menggeliat meminta pelepasan, mengajak indera dan organ dalam persekongkolan rencana jahat , hilanglah akal sehat, pudarlah keyakinan, runtuhlah keimanan. Bagai macan buas terlepas dari kandang, ia siap memangsa apa saja, menebar pukat dan jerat, memperkuat sindikat, semakin banyak pihak yang terlibat, perselingkuhan terencana menjalar semakin cepat.
Baca lebih lanjut

REFORMASI BUKAN SAMBEL TERASI

( Potret Sejarah Bangsa Gagal Mental )

Gong reformasi ditabuh. Suara pembaharuan menggema. Euforia kebebasan massa setelah tiga puluh tahun terkungkung dalam tiran meluap menggelora, bagai air tumpah dari bendungan besar. Udara kemerdekaan yang dinanti- nantikan rakyat, meski harus ditebus dengan nyawa ribuan anak bangsa yang selalu saja menjadi korban perubahan zaman, tumbal wajib setiap permainan kekuasaan, sudah biasa. Baca lebih lanjut

S E B U T I R N A S I


Sebutir nasi yang terjatuh saat kita sarapan bisa mengenyangkan puluhan ekor semut di bawah meja makan.

Rizki yang kita anggap tiada arti seringkali bisa menyelamatkan banyak nyawa, menghilangkan kesulitan sesama dan kebahagiaan besar tiada tara.

Hanya saja kadang kita begitu berat untuk berbagi, bahkan di saat kita sebenarnya tak membutuhkannya lagi

KURSI YANG BERSUJUD

oleh : paijo

Semula ia hanya sebilah papan tak berarti apa- apa dan tak berdaya. Namun ketika dua tangan seorang tukang meraihnya, memotong- motong dengan ukuran tertentu, menyerutnya, merangkai bagian demi bagian, mengukir dan menghias tampilannya, tiba- tiba ia berubah menjadi sesuatu yang baru, sebuah kursi indah tercipta.

Ia tak pernah meminta dan mengharap untuk diciptakan, tapi juga ia tak kuasa menolak ketika sang tukang berkehendak untuk satu tujuan, “ Aku ingin menciptakan sebuah tempat duduk yang indah dan Baca lebih lanjut

ADAKAH TELAH ROBOH TIANG AGAMA ?

( Muhasabah atas Redupnya Ruh Shalat)

“ Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang mendirikannya, maka ia telah mendirikan agama, dan barang siapa meninggalkannya, maka ia telah merobohkan agama. “
Namun berkaca dari kenyataan yang ada, adalah ironis manakala hampir seluruh media dipenuhi oleh kabar berita memprihatinkan, kejahatan, kriminal, maksiat, kekejian dan kemungkaran makin merebak, sangat sangat bertolak belakang dengan ketekunan umat dalam menjalankan ibadah dan syari’at, dalam konteks ini, shalat. Perjudian, Baca lebih lanjut

NASEHAT UNTUK JASAD

oleh : Ustad Mustofa Qomar

ASSALAMMU’ALAIKUM.WR.WB.

1.)Lihatlah kepala kita.. Apakah ia sudah kita tundukkan, rukukkan
dan sujudkan dengan segenap kepasrahan seorang hamba fana tiada daya di hadapan Allah Yang Maha Perkasa, atau ia tetap tengadah dengan segenap keangkuhan, kecongkakan dan kesombongan seorang manusia di dalam pikirannya?

Baca lebih lanjut

ANTARA PENCARI DAN PENCURI

Para pencari dan para pencuri berkeliling bumi menyusur jalan- jalan sepi menyisir hari mengejar mimpi menggapai tujuan dan obsesi.
Apa yang dicari, apa yang dicuri, siapa yang dicari, siapa yang dicuri, tak lagi jelas tak lagi pasti, rantai panjang kehidupan, hingga satu mata kematian pencari dan pencuri baru akan berhenti.

Baca lebih lanjut